Program Pemberdayaan Masyarakat dalam pencegahan pernikahan dini kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, income generating anak dan perempuan muda di Kab. Indramayu
Neng Kanaya singkatan dari Nikahna Engke, Kita Anak Berdaya, merupakan program pemberdayaan masyarakat (community development) yang ditujukan bagi anak remaja, khususnya perempuan. Program ini merupakan kerjasama antara PT Polytama Propindo dan Yayasan Komunitas Berdaya Indonesia dalam pencegahan pernikahan dini atau perkawinan anak, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, income generating anak dan perempuan muda di lingkungan desa penyangga PT Polytama Propindo di Kecamatan Juntinyuat, kabupaten Indramayu. Ketiga desa tersebut ialah Desa Limbangan, Desa Lombang dan Desa Tinumpuk. Program Neng Kanaya telah berjalan sepanjang tahun 2021-2022, yang terbagi menjadi dua tahap.
DUTA NENG KANAYA : MENJADI BERDAYA BERSAMA
Pagi itu, tepat hari Selasa tanggal 02 Maret 2021, masih dalam suasana pandemi Covid-19, mobil kami berpenumpang tiga orang yang merupakan tim KBI meluncur dari arah Jakarta menuju Indramayu selama enam jam. Sesampainya, aroma laut menyeruak disusul dengan semilir angin membawa aroma padi terhampar yang begitu segar, serta terik matahari menghantarkan tim KBI ke tiga desa penyanggah salah satu anak perusahaan Pertamina, PT Polytama Propindo. Kami tiba di desa Limbangan, baru menuju Desa Lombang dan Desa Tinumpuk. Sebelum memulai program pemberdayaan masyarakat, kami perlu kesana dalam rangka survei lapangan untuk mengetahui kondisi lapangan, struktur desa, instansi pendidikan, mengatahui tingkat perekonomian dan aktivitas sehari-hari warga desa, infrastruktur desa, serta tingkat partisipasi aktif pelajar/mahasiswa. Setelah bertemu beberapa stakeholders untuk melakukan wawancara dan perizinan, kami selesa ba’da Isya’, lalu bertolak kembali ke Jakarta, untuk mempersiapkan jalannya program pemberdayaan masyarakat kami, yang merupakan kerjasama dengan PT Polytama Propindo.
Selang sekian minggu kemudian, kami mulai menjalankan program pemberdayaan masyarakat dengan tagline “Neng Kanaya”, singkatan dari Nikahna Engke, Nantos Gumilang, Kita Anak Berdaya tahap pertama, yang kemudian dilanjutkan tahap kedua pada tahun 2022.Senja itu mentari mulai terbenam, menyembul diantara corong-corong pabrik di desa Limbangan. Desa Limbangan termasuk dalam wilayah pesisir Kecamatan Juntinyuat di Kabupaten Indramayu. Indahnya senja itu tak sama seperti kehidupan masyarakat Desa Limbangan, begitu juga Desa Tinumpuk dan Lombang, yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, petani dan buruh.
Sebab, masih marak pernikahan di bawah umur, perilaku berisiko seperti pergaulan bebas dan angka perceraian yang begitu tinggi terlebih saat musim paceklik. Ditambah banyak remaja putus sekolah atau lulus SMP/SMA pergi mengadu nasib ke negeri orang, dengan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Sebagian di desa Limbangan para perempuan membantu mengolah ikan hasil penangkapan menjadi ikan asin, yang dikirim ke kabupaten Majalengka. Nunik, mahasiswi asal desa Limbangan, merasa risau dengan kondisi desanya.
Lalu, ia bersama Kang Urry, Teh Lia, dari desa tetangga mencari cara untuk mengatasi persoalan desa mereka.
Sekaligus kami ngadakan TOT Peer Educator yang akan menjadi Duta Neng Kanaya, di mana mereka didik, dilatih, dan dibina untuk menguasai materi-materi pelatihan dan penyuluhan untuk isu kesehatan reproduksi khususnya HIV/AIDS, pencegahan pernikahan dini, serta peningkatkan life skill serta soft skills remaja dan dewasa setempat dalam keterampilan menciptakan produka kerajinan tangan. Sebanyak 25 anggota Duta Neng Kanaya (Duta NK) menjalankan pelatihan, melalui program Duta NK mereka memulai langkah kecil dalam membuat perubahan.
“Program Duta NK ini sangat bermanfaat bagi anak-anak dan perempuan di desa kami. Saya pikir perlu terus dilanjutkan dengan menyediakan basecamp tetap sebagai pusat pembinaan. Sebab, selama ini peralatan pembinaan masih disebar ada yang di aula SD, rumah Pembina jahit, dan lainnya.” ujar Kang Urry, salah satu local hero Duta NK.
Program Duta NK diinisiasi untuk melatih keterampilan hidup dan soft skill remaja dan generasi muda khususnya perempuan. Menjadi berdaya bersama, itu visi mereka. Sehingga, dapat terhindar dari segala perilaku berisiko, dan meningkatkan income generating.
“Selama tiga hari pelatihan, kami belajar membuat kerajinan tangan suvenir khas yang bisa menjadi oleh-oleh. Seperti membuat tas batik, masker batik, strap masker, dan tas sulam. Kami juga belajar membuat konten untuk memasarkannya. Semua menyenangkan.” ujar teh Lia.
Setelah itu, pembinaan tetap dilaksanakan. Sebab, Duta NK akan merilis produk mereka di acara Bazaar peluncuran batik Tinumpuk di desa Tinumpuk. Semuanya antusias termasuk berlatih fashionshow.
Namun, jarak desa satu sama lain yang cukup berjauhan menjadi tantangan tersendiri. Satu per satu Duta NK berguguran. Tersisa 15 orang. Mereka tetap bergantian untuk belajar menjahit, merajut dan menyulam setiap sore. Meski keterbatasan kemampuan mereka dalam menguasai teknik-teknik kerajinan tangan dan jam terbang penyuluhan yang belum maksimal kadang membuat mereka lelah dan jenuh atau menyerah.
Sampai Zaskiya Duta NK bertanya kepada tim YKBI ,“Kapan ada kegiatan Latihan membuat kerajinan tangan lagi, kak? Saya suka mengikutinya.”
Tim YKBI menjawab ,”Tunggu ya, doakan program bisa mulai lagi.”
Disusul dengan Teh Lia bertanya ,”Kita membutuhkan basecamp tetap untuk kegiatan komunitas usaha, kak. Bagaimana kelanjutannya? Selain itu, kita juga membutuhkan regenerasi karena yang kemarin sudah banyak yang tidak aktif.”
Tim YKBI menjawab ,”Tentu kita akan cari rumah warga setempat yang bisa dijadikan basecamp atau disewa ya. Wah, ide yang bagus itu, teh Lia. Regenerasi pengurus komunitas usaha akan kita lakukan nanti ya!”
“Semoga program ini akan tetap berlanjut meski program Tahap Kedua telah usai, namun para Duta Neng Kanaya dapat meneruskan jalannya program secara berdikari, sehingga ikhtiar kita selama ini dalam bergerak untuk berkontribusi dalam pengentasan persoalan pencegahan pernikahan dini, kesadaran terhadap kesadaran Kesehatan reproduksi remaja serta HIV/AIDS di kecamatan J, kabupaten ID, akan menjadi sia-sia. Tentu akan mengecewakan para Duta NK. Sedangkan, masih banyak potensi yang bisa dikembangkan di sana terlebih untuk meningkatkan income generating perempuan muda di sana.” terang Lely, Direktur Eksekutif YKBI, saat melakukan rapat bersama donatur.
Sampai sekarang, Duta NK bergerak secara mandiri dengan modal berupa peralatan dan perlengkapan usaha handicraft oleh YKBI sembari terus melakukan inovasi produk. (Endah)