Sebuah inisiatif kolaboratif yang dijalankan kami bekerjasama dengan instansi pendidikan di DKI Jakarta, untuk membangun kesadaran kolektif dan ketahanan sosial terhadap bullying di kalangan anak dan remaja.
“Kampanye Gerakan Anti Bullying : Jadilah Teman Sejati yang Baik” adalah inisiatif kolaboratif yang dijalankan oleh Yayasan Komunitas Berdaya Indonesia, bekerja sama dengan instansi-instansi pendidikan di DKI Jakarta, untuk membangun kesadaran kolektif dan ketahanan sosial terhadap bullying di kalangan remaja.
Jika Anda tertarik untuk membawa program ini ke sekolah Anda, menjadi mitra pendukung, atau ingin mengetahui modul pelatihannya, silakan hubungi kami di kbi@berdayaindonesia.org.
Anda juga dapat menonton sebuah single kampanye melalui karya seni kami melalui tautan di bawah ini. Please like, comment and share. Jangan lupa subscribe juga ya!
https://www.youtube.com/watch?v=e3sQhjXco9o
Dari Lapangan ke Kesadaran Kolektif: Menghidupkan Gerakan Anti-Bullying di Sekolah-sekolah
Sebagai trainer yang telah bekerja di isu perlindungan anak dan remaja selama hampir satu dekade, kami tidak pernah merasa sekuat ini dampak nyata sebuah kampanye. Sejak tahun 2023, kami berdiri di tengah lapangan sebuah sekolah menengah di Jakarta Selatan. Di hadapan kami, lebih dari 200 siswa SMP, berdiri rapi mengenakan seragam. Mereka menyimak dengan seksama materi kampanye anti bullying yang kami sampaikan. Ini bukan kampanye biasa. Ini adalah dorongan membentuk suara kolektif yang selama ini tertahan di ruang kelas, lorong sekolah, dan komentar digital.
Program “Kampanye Gerakan Anti Bullying” dengan motto “Jadilah Teman Sejati yang Baik” dirancang sebagai gerakan kolosal anti-bullying yang tidak hanya mendidik, tapi juga menghidupkan kesadaran. Bersama tim YKBI dan mitra pendidikan lokal, kami menggelar kampanye besar-besaran di lapangan dan aula sekolah-sekolah negeri dan swasta di Jakarta. Tujuannya jelas: membawa isu bullying ke ruang publik remaja—dengan bahasa mereka, cara mereka, dan kepemilikan mereka.
Kami mengadakan lomba membuat video TikTok tentang kampanye anti-bullying menggunakan lagu anti bullying ciptaan Lely Wahyuniar, kampanye dimulai dengan aksi simbolik di lapangan: penampilan campaign dance siswa pemenang lomba video tiktok, dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang How to Deal with Bullying yang interaktif dengan para siswa. Tapi bagi kami, momen terpenting justru terjadi di dalam aula, saat kami menggelar sesi Sharing and Session—ruang aman bagi siswa untuk bicara, mendengar, dan menyembuhkan.
Di salah satu sekolah, kami fasilitasi sesi yang awalnya berjalan kaku. Namun, mencair setelah trainer bercerita tentang kasus bullying, dan ada beberapa siswa yang berani bercerita atau speak up tentang pengalaman tak menyenangkan sebagai korban bullying. Siswa bebas berekspresi mengungkapkan perasaaannya, karena siswa merasa punya ruang, hak, dan keberanian.
Dari pengalaman ini, kami sadar bahwa anak-anak kita tidak kekurangan empati—mereka hanya belum diberi ruang untuk menyalurkannya. Kampanye tersebut menunjukkan bahwa jika ruangnya cukup luas dan aman, siswa bisa menjadi agen perubahan paling kuat di sekolah mereka sendiri.
Kampanye ini tidak berhenti di satu acara. Kami masih terus bergerak dengan goal agar perlunya setiap sekolah membentuk peer-support team atau memaksimalkan ekstrakurikuler tentang Konseling Sebaya-siswa terlatih sebagai peer supporters yang berperan mencegah, merespon, dan mendampingi kasus bullying ringan. Mereka bukan satpam atau guru, tapi penjaga nilai-nilai keamanan emosional antarteman.
Perundungan (bullying) di sekolah merupakan masalah serius yang dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan mental dan emosional siswa. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari ejekan, ancaman, pengucilan, hingga kekerasan fisik. Dalam lingkungan belajar yang seharusnya aman dan mendukung, perundungan justru bisa merusak rasa percaya diri dan motivasi siswa.
Penting bagi siswa, guru, dan orang tua untuk mengenali tanda-tanda perundungan. Beberapa tanda umum antara lain perubahan perilaku mendadak, enggan ke sekolah, penurunan prestasi, atau keluhan fisik tanpa sebab jelas. Edukasi mengenai perundungan harus dimulai sejak dini agar semua pihak mampu membedakan antara konflik biasa dan tindakan yang sudah tergolong sebagai perundungan.
Mencegah perundungan tidak hanya tentang menghukum pelaku, tetapi juga membangun budaya sekolah yang ramah, inklusif, dan penuh empati. Program anti-bullying, pelatihan keterampilan sosial, serta ruang terbuka untuk berbagi pengalaman bisa menjadi langkah awal. Guru dan staf sekolah perlu dilatih untuk merespons kasus perundungan dengan tepat, sedangkan siswa didorong untuk menjadi upstander—yakni orang yang berani membela temannya yang menjadi korban.
Dengan mengenali dan mencegah perundungan secara aktif, kita turut menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak-anak Indonesia.