Pernahkah kamu membuka ponsel hanya untuk mengecek satu berita, lalu tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam menggulir berita buruk demi berita buruk? Fenomena ini dikenal sebagai doomscrolling—kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif secara daring, terutama melalui media sosial dan portal berita.
Secara psikologis, otak manusia memiliki bias negatif—kecenderungan untuk lebih memperhatikan informasi buruk dibandingkan yang positif. Ini adalah mekanisme bertahan hidup yang diwariskan dari masa lalu, ketika mengenali ancaman bisa menyelamatkan nyawa. Namun di era digital, bias ini membuat kita rentan terhadap banjir informasi negatif yang tak ada habisnya.
Menurut penelitian, doomscrolling dipicu oleh:
Kecemasan dan ketidakpastian, seperti saat pandemi atau krisis global.
FOMO (Fear of Missing Out)—takut ketinggalan informasi penting.
Algoritma media sosial yang menyajikan konten serupa dengan apa yang kita konsumsi sebelumnya, memperkuat siklus negatif.
Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan buruk—ia berdampak nyata pada kesehatan mental:
Meningkatkan kecemasan dan depresi, terutama pada remaja dan dewasa muda.
Mengganggu fokus dan produktivitas, karena otak terbiasa dengan stimulasi cepat dan emosional.
Membentuk persepsi dunia yang lebih gelap, membuat kita merasa dunia lebih berbahaya dari kenyataannya.
Psikolog menyarankan beberapa strategi untuk keluar dari lingkaran ini:
Tetapkan batas waktu untuk mengakses berita atau media sosial.
Kurasi konten dengan mengikuti akun yang menyebarkan informasi positif dan terpercaya.
Ganti kebiasaan: Alih-alih menggulir berita, lakukan aktivitas yang menenangkan seperti membaca buku, berjalan kaki, atau berbicara dengan teman.
Sadari pola pikir: Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah informasi ini membantu atau hanya menambah beban pikiran?”
Doomscrolling adalah cerminan dari kebutuhan manusia untuk merasa aman dan terkendali di tengah dunia yang kacau. Tapi ironisnya, semakin kita mencari rasa aman lewat berita buruk, semakin kita merasa tak berdaya. Dengan kesadaran dan kebiasaan baru, kita bisa mengambil kembali kendali atas perhatian dan ketenangan pikiran kita.
Penulis postingan